Langsung ke konten utama

Sastra Lisan Ternate: antara Dalil Tifa dan Moralitas Masyarakat Ternate




Dalil Tifa dan Moralitas Masyarakat  Ternate

(Artikel ini ditulis ketika itu Kota Ternate sedang kehilangan aura relegiusitasnya. dan bukan hanya ketika itu, hari ini pun demikian)

Dewasa ini, tragedi kemanusiaan semakin membara, sejarah kemanusiaan memberikan eksistensi manusia masa kini sebagai perebutan kekuasaan. Segi perebutan kekuasaan ini, menyeluruh hingga ke penjuruh dunia.  Setiap kelompok dominan mengklaim dari sisi agama bahwa mereka yang paling benar berdasarkan keyakinannya. Begitu pula kelompok-kelompok etnis, mengejar ketertinggalan atas dasar warisan sejarah. Politik dewasa ini mengikutsertakan, walaupun dipandang sampah yang busuk, namun tetap di daur ulang oleh pelaku itu sendiri. kehidupan tak lagi sudi bersama manusia, krisis ekonomi, konflik-konflik berkepanjangan yang berujung saling membunuh. belum lagi konsumsi minuman keras, judi, kekerasan dan lain-lain, bahkan bidang pemerintahan, wakil rakyat dan para pemerintah diduga kurupsi.  Hal ini karena Manusia bertindak tanpa harus berpikir tentang eksistensi Tuhan. Sebagaimana dikatakan oleh seorang tokoh dalam novel yang ditulis pengarang Rusia termasyhur, Dostoyevski bahwa seandainya Allah tidak ada, semuanya diperbolehkan.

Apa maksud dari pengantar di atas dan bagaimana hubungannya dengan dalil Tifa? Fenomena kehidupan di atas merupakan ciri keluarnya tindakan yang bermoral, yang baik dari manusia itu sendiri. dengan mendasari ini, dalam hubungannya dengan nilai sastra,dalil tifa seharusnya menjadi semacam pedoman alternatif untuk memahami dan membekali dalam setiap langkah.
                                           
Dalil tifa adalah jenis sastra lisan yang bersumber dari kontemplasi dan imajinasi leluhur dalam berkreasi secara verbal yang berasal dari praktik kehidupan bermasyarakat. hakikat dalil tifa mengajarkan, memahami dan mengimplementasi suatu kewajiban umat islam menuju sang khalik. Ini salah satu dimensi kehidupan adat bersindikan pada agama (Adat matoto agama). dalil tifa merupakan kata-kata yang terpatri mewakili dunia, sebab dunia ada dalam hakikat kata-kata yang terdapat pada dalil tifa tersebut. secara etimologi, kata Tifa adalah Simbolisasi primitif yang berarti Beduk. Benda yang bunyinya menyimbolkan akan panggilan terhadap umat manusia menunaikan kewajibannya (Tifa masaya Islam). Tifa tersebut terletak dibeberapa mesjid, misalnya mesjid Heku, mesjid Kesultanan Ternate (Sigi lamo), serta beberapa mesjid lainnya yang berada di kota Ternate. berbagai simbol yang ada telah tertafsir pada hubungan manusia dengan Sang Khalik (Habluminannas). Goheba dopolo romdidi (Burung berkepala dua),  Tuala Lipa dan Takwa, begitu pula dari proses penciptaan manusia tertata rapi dalam QS. At-Tin telah tersimbolkan pada eksistensi dan wujud makanan Adat Ternate. hal tersebut atas dasar adat matoto agama, agama matoto kitabullah, kitabullah matoto jou Allah ta’ala (Adat bersindikan pada agama, agama bersindikan Kitabullah, kitabullah bersindikan pada Allah Swt). Namun, ada satu pertanyaan, jika simbol tersebut telah terwujud serta ada dalam ketiadaan, lalu bagaimana dengan manusia sebagai hamba yang menjalankan hukum adat yang bersindikan pada agama? Apakah minuman keras bagian dari Adat?  Begitu pula proses kekerasan antar sesama manusia.

Kehidupan masyarakat Ternate telah ditetapkan berdasarkan hukum adat. Arti hukum adat adalah menetapkan sesuatu yang telah dikenal oleh orang banyak dan telah menjadi kebiasaan mereka (Abidin, 1951:26).  Hukum adat terdiri dua bagian yakni adat yang shahih dan fasid. Dimana yang shahih berdasarkan ketentuan hukum syara (Perintah Allah Swt) sedangkan yang fasid bertentangan dengan hukum Syara. Berdasarkan pada artian hukum adat, terwujudnya tata laku disetiap perjalanan manusia berdasarkan pedoman para leluhur. Sebab para leluhur pula turut berkontemplasi atas dasar yang tunggal.

Tradisi ke-Ternate-an menjadi satu warisan sejarah dan budaya yang telah lama tertanam dalam jiwa setiap umat. Bertindak berdasarkan syariat islam adalah hal utama untuk mempertahankannya. Kehidupan sosial yang menjadi tradisi tersebut, melahirkan satu kekerabatan dalam dinamika kemasyarakatan. Legu gam misalnya, menjadi satu tradisi yang menyambung tali silaturrahim diantara umat seluruhnya. Perayaan Legu Gam menjadi refleksi. Sebab dalam menjalani kehidupan pasti mengalami cobaan dan tantangan, oleh sebab itu dipandang perlu mengadakan Kololi Kie (keliling Gunung), serta ritual-ritual lainnya. Keselamatan umat adalah harus diprioritaskan, Kololi Kie, setiap umat berseragam Tuala Lipa dan Takwa. Oleh sebab itu, ia harus  mengedepankan hati iklas, suci dalam batin, serta rendah hati dalam melakukan ritual. hakikat Legu Gam inilah kemudian menjadi pegangan hidup para leluhur.

Dewasa ini, Legu Gam memperkenalkan ikon turnamen dari produk-produk nontradisional. Siapa yang memiliki harga barang yang lebih murah maka berbahagialah dia, sebab laku dibeli pengunjung (raja murah anti mahal). Legu Gam sebagai Pesta rakyat identik ranjang yang luas sebagai tempat pelampiasan nafsu, anak muda yang saling bercumbu dideretan panjang Dodoku Ali. Legu Gam tak jauh berbeda dengan diskotik yang bernama Laguna.  Ada pula mengkonsumsi minuman keras yang konon katanya diberantas oleh pihak Kepolisian, namun sangat disayangkan, sebagai pihak keamanan, ada juga yang turut mengkonsumsinya.

Mengacu pada konsistensi gagasan utama penulis, masyarakat Adat adalah masyarakat yang beradat. kata beradat adalah kata terikat yang merujuk pada proses perjalanan kehidupan dilandasi moral. Jika seseorang melanggar nilai moral (immoral) secara otomatis seseorang tersebut tidak beradat. olehnya itu, Masyarakat adat (tersimbol dari Lipa dan Takwa) belum tentu beradat apabila moralitasnya diabaikan.

Moral dan agama seharusnya menjadi warisan peradaban manusia. Moral merupakan cermin dari tindakan hidup keseharian manusia. Apabila manusia mengedepankan nilai dan norma dalam kehidupannya, berarti ia mempunyai moral yang baik. sebab landasan moralitas adalah ajaran tuhan yang terlintas dalam kitab suci. Jika ditanya mengapa perbuatan ini tidak boleh atau boleh dilakukan, jawabannya sederhana, karena itulah ajaran Tuhan, atau kehendak Tuhan yang Maha kuasa.
 ****
 Penulis: Rafli Marwan (Permerhati Bahasa dan Sastra)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Peristiwa Tutur Menggunakan Teori "Speaking" Dell Hymes

ANALISIS PERISTIWA TUTUR MENGGUNAKAN TEORI " SPEAKING " DELL HYMES Penulis: Rafli Marwan ( Mahasiswa Pascasarjana  Pendidikan Bahasa Indonesia  Universitas Negeri Semarang) Penulis menjelaskan terlebih dahulu komponen-komponen teori  SPEAKING Dell Hymes berdasarkan beberapa referensi. Dell Hymes  Setelah itu, penulis memberikan contoh peristiwa tutur kemudian menganalisis berdasarkan komponen-komponen SPEAKING Dell Hymes. I. Konsep SPEAKING   Dell Hymes Dell Hymes (1972) merumuskan komponen peristiwa tutur yang kemudian diakronimkan menjadi   SPEAKING, yaitu (S) Setting and scene , (P) Participants, (E) End, (A) Act sequence, (K) Key, (I) Instrumentalities, (N) Norms of interaction and interpretation, (G) Genre. berikut penulis menjelaskan disertai perbedaan-perbedaan pemahaman. 1.     Setting and scene (latar dan suasana) . Setting atau latar lebih bersifat fisik, yang meliputi tempat dan waktu terjadinya tuturan....

“Simbolisasi Makanan Adat Ternate Dalam Tradisi Tahlilan” (Sebuah Kajian Makna)

PENDAHULUAN      Ternate merupakan sebuah sumber tradisi lisan yang tercermin dalam sebuah kebudayaan. Kekayaan dari tradisi-tradisi tersebut menjadikan Ternate menjadi ikon sejarah dan budaya yang dikenal dikancah dunia, demikian dengan Maluku Kie Raha secara umum. kekayaan sebuah simbolisasi menghadirkan perhatian bagi masyarakat luas. Karena Leslie White ( dalam Ratna,2011:13) kebudayaan dan peradaban tergantung pada simbol. Kemampuan dalam menggunakan simbollah yang dapat melahirkan dan mempertahankan kebudayaan. Sastra lisan yang juga bagian dari tradisi lisan telah mengingatkan manusia akan sebuah kehidupan masa lalu serta menjadikan para leluhur sebagai titik tolak eksistensi hubungan manusia dengan sesamanya, dengan alam, serta   maha pencipta alam semesta. Mengapa demikian, karena praktik-praktik sebuah masa lalu syarat dengan sebuah makna yang terindikasi pada nilai-nilai moral, serta pesan-pesan yang bernafaskan islam...