Langsung ke konten utama

Kritik Sastra Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazzy



Kritik Sastra Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy

Oleh: Rafli Marwan



I.     PENDAHULUAN
Novel Ayat-Ayat Cinta merupakan genre novel islam yang di tulis oleh Habiburrahman El Shirazi pada tahun 2003 (tahun ketika selesai menulis) dan diterbitkan pada tahun 2004. Berbeda dengan novel religi yang ditulis sebelumnya, novel Ayat-Ayat Cinta menjelaskan beragam sudut pandang tentang ajaran-ajaran islam, sehingga tidak mengherankan jika novel ini mengundang banyak pembaca. Berbagai referensi mencatat bahwa pada tahun 2008 novel Ayat-Ayat Cinta mencapai cetakan ketiga puluh satu dan termasuk dalam best seller.
Novel Ayat-ayat Cinta merupakan novel dakwah yang mewujudkan islam sebagai agama rahmatan lil’alamin, yaitu agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Sesuai dengan firman Allah salam surah Al-Anbiya ayat 107 yang berbunyi “dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Rahmatan lil’alamin dalam konteks kemanusiaannya, mengajarkan kepada setiap umat manusia untuk saling menghormati dalam setiap perbedaan, terutama perbedaan agama. kita sebagai umat muslim harus menjadi rahmat bagi umat nasrani, menunjukan sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Al-quran dan hadist.
Berdasarkan nilainya, Novel Ayat-Ayat Cinta mengandung beberapa aspek nilai pendidikan, yaitu nilai pendidikan islam, nilai pendidikan moral, dan nilai pendidikan sosial. Olehnya itu, tujuan yang ingin ditempuh dalam penulisan ini adalah mengungkapkan aspek nilai yang terdapat dalam novel Ayat-ayat Cinta.

II.  PEMBAHASAN
Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy merupakan genre novel  islam. Disebut novel islam karena ceritanya menjelaskan beragam ajaran-ajaran islam yang terwujud melalui berbagai dalil-dalil Al-quran dan Hadits.
Tokoh utama novel Ayat-ayat Cinta yang bernama Fahri adalah menggambarkan sosok para Nabi terutama Baginda Rasululullah Saw. Gambaran kehidupan Fahri sesungguhnya mengajarkan kita tentang cara menjadi umat muslim yang hidup berpedoman pada Al-quran dan Hadist.
Dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy, terdapat beragam sudut pandang tentang ajaran-ajaran agama yang mengandung tiga nilai, yaitu: 1) nilai pendidikan islam; 2) nilai pendidikan moral; dan 3) nilai pendidikan sosial.

1.    Nilai Pendidikan Islam
Dalam Novel Ayat-ayat Cinta terkandung beberapa nilai islam yang mendidik kita untuk senantiasa melaksanakannya karena merupakan suatu kewajiban sebagai kita sebagai umat muslim.

a.    Nilai ketakwaan
Nilai ketakwaan yang ditujukan dalam pembahasan ini adalah melaksanakan sholat lima waktu. Hal tersebut digambarkan melalui tokoh utama yang bernama Fahri. Berikut kutipannya:
Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah sesempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia tetap teguh berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih tak kenal kesah. Atau, seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan”

Kutipan di atas merupakan suatu nilai yang sangat bermanfaat untuk kita sebagai umat muslim. Karena dewasa ini, kebanyakan umat muslim tidak melaksanakan sholat dengan alasan yang tidak rasional. Seperti lupa sholat karena sibuk kerja, karena masjid jauh, karena pakaian kotor dan lain-lain. Lebih miris lagi tidak sholat karena cuaca yang tidak mendukung melaksanakan sholat di masjid.

b.   Nilai Keyakinan
Setiap manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dari cobaan dan ujian. Ada yang mengeluh adapula yang teguh. Islam mengajarkan kita tentang sabar atas segala ujian. Sabar karena meyakini adanya kemudahan di balik kesusahan adalah satu tanda orang yang beriman. Dn satu titik dimana keyakinan itu terwujud apabila kita mencurahkan segala kesusahan dan kegelisahan kepada Allah Swt. Seperti kutipan di bawah ini:
Panggilan iqamat terdengar bersahut-sahutan. Panggilan mulia itu sangat menentramkan hati. Pintu-pintu meraih kebahagiaan dan kesejahteraan masih terbuka lebar-lebar. Kupercepat langkah. Tiga puluh meter di depan adalah Masjid Al-Fath Al-Islami. Masjid kesayangan. Masjid penuh kenangan tak terlupakan. Masjid tempat aku mencurahkan suka dan deritaku selama belajar di sini. Tempat aku menitipkan rahasia kerinduanku yang memuncak, tujuh tahun sudah aku berpisah dengan ayah ibu. Tempat aku mengadu pada Yang Maha Pemberi rizki saat berada dalam keadaan kritis kehabisan uang. Saat hutang pada teman-teman menumpuk dan belum terbayarkan. Saat uang honor terjemahan terlambat datang. Tempat aku menata hati, merancang strategi, mempertebal azam dan keteguhan jiwa dalam perjuangan panjang (Hal-12)
Masjid adalah tempat terbaik orang-orang yang beriman untuk mencurahkan segala kesusahan dan kegelisahan yang dialami. Meyakini bahwa doa yang kita sampaikan pasti terkabulkan walau tanpa kita sadari.

c.    Nilai Dakwah
Kebanyakan kita umat muslim bahkan umat beragama lain menganggap bahwa orang-orang berdakwah hanyalah orang yang bergelar ustad. Padahal yang namanya umat muslim berkewajiban untuk berdakwah, karena dakwah pada dasarnya adalah menyampaikan ajaran-ajaran islam yang sesuai dengan Al-quran dan hadist. Berikut kutipannya:
 “Aku langsung menulis janji bertemu Aisha pada planning kegiatan esok hari. Ternyata padat. Besok jadwal khutbah di masjid Indonesia. Berarti nanti malam mempersiapkan bahan khutbah. Pagi diketik dan langsung di-print. Lantas istirahat. Tidak ke mana-mana. Tidak juga sepak bola. Untak stamina khutbah. Kalaupun ingin melakukan sesuatu lebih baik menerjemah beberapa halaman. (hal 61).
Arti  dakwah sangatlah luas, karena dalam pendidikanpun merupakan baggian dari dakwah. Hal ini dapat kita cermati pada kutipan berikut:
“Kurasa ibuku adalah wanita paling mulia di dunia. Ia muslimah sejati yang menempatkan ibadah dan dakwah di atas segalanya. Dan aku sangat beruntung terlahir dari rahimnya. Ketika berumur 22 tahun ibuku menjadi lulusan terbaik fakultas kedokteran Universitas Istanbul. Saat itu beliau dilamar anak pejabat yang menjanjikannya akan membuatkan rumah sakit terbesar di Turki. Tapi beliau tolak, sebab anak pejabat itu sangat sekuler dan sama sekali tidak menghargai ajaran agama. Dalam padangan beliau, seandainya menikah dengannya sangat sedikit sekali peluang untuk menariknya ke jalan yang lurus hanya akan membuang tenaga. Beliau memilih mengambil beasiswa ke Jerman. Dalam keyakinan ibu, menekuni bidang ilmu dengan serius adalah dakwah. Berislam, menurut ibu tidak berarti harus memusuhi Barat. Tetapi justru memperjuangkan Islam lewat Barat. (Hal. 191)
Selain itu, nilai dakwah yang perlu dipetik dalam novel Ayat-ayat Cinta adalah keikhlasan. Berikut kutipannya:
Bagaimana mungkin aku yang sudah merepotkan mereka masih juga membebankan biaya pada mereka. Dakwah ya dakwah. Ibadah ya ibadah. Tapi elokkah ongkos dakwah dan ibadah dibebankan orang lain? (Hal-74)
Kutipan di atas merupakan suatu pesan bahwa berdakwah jangan terlalu membesarkan harapan untuk memperoleh keuntungan. Artinya berdakwah bukan karena kebutuhan ekonomi melainkan karena Allah Swt. hal tersebut dapat kita petik nilai dakwah dari Baginda Nabi seperti pada kutipan di bahwa ini:
Aku jadi teringat sepenggal episode perjalanan hijrah Nabi. Ketika akan berangkat hijrah ke Madinah beliau diberi seekor onta oleh Abu Bakar. Namun beliau tidak mau menerimanya dengan cuma-cuma. Beliau mau menerima dengan syarat onta itu beliau beli. Abu Bakar inginnya memberikan secara cuma-Cuma untuk perjalanan hijrah Nabi. Tapi baginda Nabi tidak mau beban sarana dakwah dipikul oleh Abu Bakar yang tak lain adalah umatnya. Baginda Nabi tidak mau menggunakan kesempatan pengorbanan orang lain. Abu Bakar punya keluarga yang harus dihidupi. Dakwah harus berjalan profesional meskipun pengorbananpengorbanan tetap diperlukan. Dan Nabi mencontohkan profesional dalam berdakwah. Beliau tidak mau menerima onta Abu Bakar kecuali dibayar harganya. Mau tak mau Abu Bakar pun mengikuti keinginan Nabi. Onta itu dihargai sebagaimana umumnya dan Baginda Nabi membayar harganya. Barulah keduanya berangkat hijrah. Itulah pemimpin sejati. Tidak seperti para kiai di Indonesia yang menyuruh umat mengeluarkan shadaqah jariyah, bahkan menyuruh santrinya berkeliling daerah mencari sumbangan dana dengan berbagai macam cara termasuk menjual kalender, tapi dia sendiri cuma ongkang-ongkang kaki di masjid atau di pesantren (Hal. 74-75)
Ketika seseorang telah disebut ‘kiai’ dia lalu merasa malu untuk turun ke kali mengangkat batu. Meskipun batu itu untuk membangun masjid atau pesantrennya sendiri. Dia merasa hal itu tugas orang-orang awam dan para santri. Tugasnya adalah mengaji. Baginya, kemampuan membaca kitab kuning di atas segalanya. Dengan membacakan kitab kuning ia merasa sudah memberikan segalanya kepada umat. Bahkan merasa telah menyumbangkan yang terbaik.
Dengan khutbah Jum’at di masjid ia merasa telah paling berjasa. Banyak orang lalai, bahwa baginda Nabi tidak pernah membacakan kitab kuning. Dakwah nabi dengan perbuatan lebih banyak dari dakwah beliau dengan khutbah dan perkataan. Ummul Mu’minin, Aisyah ra. berkata, “Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an!” Nabi adalah Al-Qur’an berjalan. Nabi tidak canggung mencari kayu bakar untuk para sahabatnya. Para sahabat meneladani apa yang beliau contohkan. Akhirnya mereka juga menjadi Al-Qur’an berjalan yang menyebar ke seluruh penjuru dunia Arab untuk dicontoh seluruh umat. Tapi memang, tidak mudah meneladani akhlak Nabi. Menuntut orang lain lebih mudah daripada menuntut diri sendiri. (Hal. 75)

d.   Nilai Hidayah
Nilai islam dalam novel Ayat-Ayat Cinta yang sangat penting adalah nilai hidayah. Tokoh yang bernama Maria yang beragama Kristen Koptik sangat menyukai ayat suci al-quran bahkan menghafal surat Maryam. Berkut kutipannya:

Maria gadis yang unik. Ia seorang Kristen Koptik atau dalam bahasa asli Mesirnya qibthi, namun ia suka pada Al-Qur’an. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Qur’an. Di antaranya surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga. (Hal. 8)

“Dengan sekilas membaca diarynya. Jika dia bukan seorang muslimah dia tidak akan mencintaimu sedemikian kuatnya. Kalau pun belum menjadi muslimah secara lesan dan perbuatan, aku yakin fitrahnya dia itu muslimah. (291)”

“Maria atau Maryam sama saja. Seperti David dengan Daud. Yang jelas namaku tertulis dalam kitab sucimu. Kitab yang paling banyak dibaca umat manusia di dunia sepanjang sejarah. Bahkan jadi nama sebuah surat. Surat kesembilan belas, yaitu surat Maryam. Hebat bukan?” (hal. 8)

2.    Nilai Pendidikan Moral
Moral diartikan sebagai perbuatan atau perilaku baik dan buruknya seseorang. Apabila perilaku seseorang itu baik maka moralnya juga baik, dan sebaliknya jika perilaku itu buruk maka moralnya juga buruk. Nilai moral yang dibahas adalah perbuatan atau perilaku seseorang yang dapat membawa kemaslahatan bagi diri sendiri maupun orang lain. Dalam arti yang luas, nilai moral bukan saja dinilai dari perlakuan baik terhadap orang lain, tetapi segala tindakan yang mencakup keseluruhan aktivitas atau tindakan yang dapat bermanfaat bagi diri seseorang maupun orang lain.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka nilai moral dalam novel Ayat-ayat Cinta adalah sebagai berikut:
a.    Nilai Pendirian
Nilai pendirian dalam novel Ayat-ayat Cinta digambarkan pada kutipan di bawah ini:

“Rud, semua orang punya skala prioritas. Banyak hal penting di hadapan kita, tapi kita tentu memilih yang paling penting dari yang penting”

Tapi janji harus ditepati. Meskipun harus merangkak akan aku jalani. (hal 107)

Maria memanggil namak dari jendelanya. Ia mengingatkan agar aku tidak pergi. Kukatakan padanya aku ada janji. Aku harus menepatinya meskipun untuk itu aku harus mati (hal 107)

b.   Nilai kasih sayang
Kasih sayang adalah kewajiban kita sebagai umat beragama. Dengan kasih sayang hidup kita ebih bermakna di mata orang lain. Nilai kasih sayang dalam novel Ayat-ayat Cinta adalah sebagai berikut:
“Aku paling tidak tahan mendengar perempuan menangis. Kuajak temanteman turun kembali ke flat. Mereka bertanya apa yang harus dilakukan untukmenolong Noura. (Hal-48)”
“Kumohon turunlah dan usaplah air matanya. Aku paling tidak tahan jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya ke tempat yang jauh dari linangan air mata
(Hal-49)
Nilai kasih sayang selanjutnya adalah sebagai berikut:
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca aku belum pernah memberikan kado pada ibuku sendiri di Indonesia. Sebelum kenal Kairo aku adalah orang desa yang tidak kenal yang namanya kado. Di desa hadiah adalah membagi rizki pada tetangga agar semua mencicipi suatu nikmat anugerah Gusti Allah. Pernah ada kiai muda dalam suatu pengajian di surau melarang ibu-ibu membuat pesta untuk anak-anak seperti itu. Katanya itu bid’ah. Ibu-ibu bingung dan lapor pada Mbah Ehsan. Mbah Ehsan yang pernah belajar di Pesantren Mambaul Ulum Surakarta itu hanya tersenyum dan bilang tidak apa-apa, tidak bid’ah, malah dapat pahala menyenangkan anak kecil. Kanjeng Nabi adalah teladan. Beliau paling suka menyenangkan hati anak kecil. Ketika aku sudah sampai Mesir, dan setelah membaca kitab Al I’tisham karangan Imam Syathibi dan kitab As-Sunnah Wal Bid’ah yang ditulis Syaikh Yusuf Qaradhawi aku merenungkan kembali jawaban Mbah Ehsan. Sungguh suatu jawaban yang sangat arif. Sungguh tidak mudah untuk membid’ahkan suatu perbuatan terpuji yang tiada larangan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Sungguh tidak bijak bertindak sembarangan menghukumi orang. (hal 80)

c.    Nilai kedisiplinan
Nilai perjuangan dalam novel Ayat-ayat Cinta digambarkan pada kutipan di bawah ini:
Aku minta padanya untuk datang tepat waktu. Ia tertawa. Sedikit ia meledek, bukankah seharusnya dia yang meminta padaku untuk datang tepat waktu. Aku tersenyum kecut. Memang orang Indonesia terkenal jam karetnya (hal 61)

“Semestinya memang begitu Syaikh. Tapi saya harus komitmen dengan jadwal. Jadwal adalah janji. Janji pada diri sendiri dan janji pada Syaikh Utsman untuk datang.” (Hal-15)

Kulihat kalender. Melihat kalender adalah hal yang paling kusuka. Karena bagiku dengan melihatnya optimisme hidup itu ada.

d.   Nilai ketekunan
Nilai ketekunan dalam novel Ayat-ayat Cinta digambarkan pada kutipan di bawah ini:
Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku belajar qiraah sab’ah3 dan ushul tafsir.”


e.    Nilai perjuangan
Nilai perjuangan dalam novel Ayat-ayat Cinta digambarkan pada kutipan di bawah ini:
 “Peta masa depan itu saya buat terus terang saja berangkat dari semangat spiritual ayat suci Al-Qur’an yang saya yakini. Dalam surat Ar Ra’ad ayat sebelas Allah berfirman, Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya. Jadi nasib saya, masa depan saya, mau jadi apa saya, sayalah yang menentukan. Sukses dan gagalnya saya, sayalah yang menciptakan. Saya sendirilah yang mengaristeki apa yang akan saya raih dalam hidup ini.” (hal 105)”
“Takdir Tuhan ada di ujung usaha manusia. Tuhan Maha adil, Dia akan memberikan sesuatu kepada umat-Nya sesuai dengan kadar usaha dan ikhtiarnya. Dan agar saya tidak tersesat atau melangkah tidak tentu arah dalam berikhtiar dan berusaha maka saya membuat peta masa depan saya. Saya suka dengan kata-kata bertenaga Thomas Carlyle: ‘Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan yang mulus!’
Sambil rebahan kunikmati suara Syaikh Syathiri membaca Al-Qur’an mengalun indah. Maghrib masih lama. Dalam musim panas, siang lebih panjang dari malam. Aku harus beristirahat. Nanti malam harus kembali memeras otak. Menerjemah untuk biaya menyambung hidup. Ya, hidup ini—kata Syauqi, sang raja penyair Arab—adalah keyakinan dan perjuangan. Dan perjuangan seorang. mukmin sejati—kata Imam Ahmad bin Hanbal—tidak akan berhenti kecuali ketika kedua kakinya telah menginjak pintu surga  (Hal 41-42)”


3.    Nilai Pendidikan Sosial
Manusia adalah makhluk sosial. Disebut makhluk sosial karena dalam kehidupannya terdapat suatu kebutuhan yang menuntut manusia untuk senantiasa membangun dan mempererat hubungan secara harmonis. Tetapi keharmonisan ini sesungguhnya merupakan nilai akhir yang sulit ditempuh dibelahan dunia manapun di masa sekarang ini. Hal ini disebabkan karena sifat keegoisme manusia yang tak pernah tersadari. Dari sifat keegoisme ini bukan saja menjauhkan manusia dari fitrah sebagai makhluk sosial tetapi juga menjauhkan manusia dari hukum duniawi dan hukum dalam kitab suci agama itu sendiri.
Dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy ini banyak menjelaskan secara konotatif tentang nilai sosial, dan oleh karena itu penulis memetahkan beberapa item untuk menjelaskan sesuai dengan kutipan-kutipan di dalam novel tersebut.

a.    Nilai Penghormatan terhadap Kaum Perempuan
Dalam Novel Ayat-ayat Cinta sangat dominan menceritakan tentang eksistensi kaum perempuan. Melalui tokoh Noura, dapat kita pahami melalui konteks sosial bahwa nasib kaum perempuan selalu saja mengalami kekerasaan, pemerkosaan dan lain sebagainya. Bentuk tindakan semacam itu merupakan suatu kejahatan yang tak pantas ditoleransi.
Kekerasan dan pemerkosaan terhadap perempuan, apakah ada hukum yang diprioritaskan untuk melindungi kaum perempuan? Jawabannya ada, tetapi pihak penegak hukum yang menganggap persitiwa itu hanyalah hal yang biasa saja.
Kita lihat, dalam novel tersebut, pelaku pemerkosaan yang bernama Bahadur, dan korban pemerkosaan yang bernama Noura adalah beragama islam. Pertanyaannya, apakah Islam memperbolehkan hal itu? sehingga kaumnya sebebas-bebasnya  melakukan tindakan kekerasan dan pemerkosaan seakan-akan hukum islam memperbolehkannya.
Dalam hukum islam yang terdapat dalam al-quran dan hadist secara jelas melarang keras tindakan kekerasan dan pemerkosaan. Islam sangat memuliakan kaum perempuan. Seperti kutipan di bawah ini:
Islam sangat memuliakan perempuan, bahwa di telapak kaki ibulah surga anak lelaki. Hanya seorang lelaki mulia yang memuliakan wanita. Demikia Islam mengajarkan.” (Hal-68)”

Di Indonesia misalnya, banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga. dan tak lain adalah umat muslim. Padahal, di dalam Al-quran dan hadist secara jelas melarang perbuatan yang demikian. Berikut kutipannya:

“Rasulullah Saw. dalam sebuah haditsnya bersabda, ‘La tadhribu imaallah!’ Maknanya, ‘Jangan kalian pukul kaum perempuan!’ (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah). Dalam hadits yang lain, beliau menjelaskan bahwa sebaik-baik lelaki atau suami adalah yang berbuat baik pada isterinya (Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Hibban). Dan memang, di dalam Al-Qur’an ada sebuah ayat yang membolehkan seorang suami memukul isterinya. Tapi harus diperhatikan dengan baik untuk isteri macam apa? Dalam situasi seperti apa? Tujuannya untuk apa? Dan cara memukulnya bagaimana? Ayat itu ada dalam surat An-Nisa, tepatnya ayat 34: “Sebab itu, maka Wanita yang saleh ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

“Nusyuz adalah tindakan atau perilaku seorang isteri yang tidak bersahabat pada suaminya. Dalam Islam suami isteri ibarat dua ruh dalam satu jasad. Jasadnya adalah rumah tangga. Keduanya harus saling menjaga, saling menghormati, saling mencintai, saling menyayangi, saling mengisi, saling memuliakan dan saling menjaga. Isteri yang nusyuz adalah isteri yang tidak lagi menghormati, mencintai, menjaga dan memuliakan suaminya. Isteri yang tidak lagi komitmen pada ikatan suci pernikahan. Jika seorang suami melihat ada gejala isterinya hendak nusyuz, hendak menodai ikatan suci pernikahan, maka Al-Qur’an
memberikan tuntunan bagaimana seorang suami harus bersikap untuk mengembalikan isterinya ke jalan yang benar, demi menyelamatkan keutuhan rumah tangganya. Tuntunan itu ada dalam surat An-Nisaa ayat 34 tadi. Di situ AlQur’an memberikan tuntunan melalui tiga tahapan, (Hal-66)
Pertama, menasihati isteri dengan baik-baik, dengan kata-kata yang bijaksana, kata-kata yang menyentuh hatinya sehingga dia bisa segera kembali ke jalan yang lurus. Sama sekali tidak diperkenankan mencela isteri dengan kata-kata kasar. Baginda Rasulullah melarang hal itu. Kata-kata kasar lebih menyakitkan daripada tusukan pedang. Jika dengan nasihat tidak juga mempan, Al-Qur’an memberikan jalan kedua, yaitu pisah tempat tidur dengan isteri. Dengan harapan isteri yang mulai nusyuz itu bisa merasa dan interospeksi. Seorang isteri yang benar-benar mencintai suaminya dia akan sangat terasa dan mendapatkan teguran jika sang suami tidak mau tidur dengannya. Dengan teguran ini diharapkan isteri kembali salehah. Dan rumah tangga tetap utuh harmonis. Namun jika ternyata sang isteri memang bebal. Nuraninya telah tertutupi oleh hawa nafsunya. Ia tidak mau juga berubah setelah diingatkan dengan dua cara tersebut barulah menggunakan cara ketiga, yaitu memukul. Yang sering tidak dipahami oleh orang banyak adalah cara memukul yang
dikehendaki Al-Qur’an ini. Tidak boleh sembarangan. Suami boleh memukul dengan syarat: Pertama, telah menggunakan dua cara sebelumnya namun tidak mempan.
Tidak diperbolehkan langsung main pukul. Isteri salah sedikit main pukul. Ini jauh dari Islam, jauh dari tuntunan Al-Qur’an. Dan Islam tidak bertanggung jawab atas tindakan kelaliman seperti itu. Kedua, tidak boleh memukul muka. Sebab muka seseorang adalah
segalanya bagi manusia. Rasulullah melarang memukul muka. Ketiga, tidak boleh menyakitkan. Rasulullah Saw. bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam masalah perempuan (isteri). Mereka adalah orang-orang yang membantu kalian. Kalian punya hak pada mereka, yaitu mereka tidak boleh menyentuhkan pada tempat tidur kalian lelaki yang kalian benci. Jika mereka melakukan hal itu maka kalian boleh memukul mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan (ghairu mubrah). Dan kalian punya kewajiban pada mereka yaitu memberi rizki dan memberi pakaian yang baik.’ Para ulama ahli fiqih dan ulama tafsir menjelaskan kriteria ‘ghairu mubrah’ atau ‘tidak menyakitkan’ yaitu tidak sampai meninggalkan bekas, tidak sampai membuat tulang retak, dan tidak di bagian tubuh yang berbahaya jika kena pukulan. (Hal-67)


b.   Nilai Toleransi
Toleransi adalah sikap menghargai pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya. Toleransi pada intinya saling menghargai atau menghormati antar sesama manusia.
Dalam novel Ayat-ayat Cinta, dapat ditemukan penjelasan-penjelasan mengenai pandangan islam tentang toleransi. Seperti pada kutipan berikut:
Semua manusia telah dimuliakan Tuhan sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an, Wa laqad karramna banii Adam. Dan telah Kami muliakan anak keturunan Adam! Jika Tuhan telah memuliakan manusia, kenapa masih ada manusia yang mencaci dan melaknat sesama manusia? Apakah ia merasa lebih tinggi martabatnya daripada Tuhan? (Hal.21)

Pada kutipan di atas bermakna bahwa semua manusia dari agama manapun adalah mulia di mata Tuhan. Olehnya itu jika manusia dari agama manapun bersikap intoleran maka sama saja dengan mengingkari eksistensi manusia sebagai makhluk yang mulia. Umat islam misalnya jika bersikap intoleransi terhadap orang-orang yang beragama lain, tentu merupakan satu tindakan yang sangat bertentangan dengan al-quran dan hadist. Hal ini ditegaskan dalam novel Ayat-Ayat Cinta, seperti kutipan dibawah ini:
Beliau (Rasulullah Saw) juga memperingatkan, ‘Barangsiapa yang menyakiti orang dzimmi, dia telah menyakiti diriku dan barangsiapa menyakiti diriku berarti dia menyakiti Allah.’Begitulah Islam mengajarkan bagaimana memperlakukan non muslim dan para tamu asing yang masuk secara resmi dan baik-baik di negara kaum muslimin. Imam Ali bahkan berkata, ‘Begitu membayar jizyah, harta mereka menjadi sama harus dijaganya dengan harta kita, darah mereka sama nilainya dengan darah kita.’ Dan para turis itu telah membayar visa dan ongkos administrasi lainnya, sama dengan membayar jizyah. Mereka menjadi tamu resmi, tidak ilegal, maka harta, kehormatan dan darah mereka wajib kita jaga bersama-sama. Jika tidak, jika kita sampai menyakiti mereka, maka berarti kita telah menyakiti baginda Nabi, kita juga telah menyakiti Allah. Kalau kita telah lancing berani menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka siapakah diri kita ini? Masih pantaskan kita mengaku mengikuti ajaran baginda Nabi?” (Hal 30)”
Selain ajaran toleransi yang tertuang dalam Al-quran dan hadist di atas, ada sikap toleransi yang sangat mulia. Betikut kutipan di bawah ini:
Untuk pertanyaan, apa sebetulnya yang terjadi antara umat Islam dan umat Koptik di Mesir, yang paling tepat sebenarnya, biarlah umat koptik Mesir sendiri yang menjawabnya. Dan Pope Shenouda pemimpin tertinggi umat kristen koptik Mesir sudah membantah semua tuduhan yang bertujuan tidak baik itu. Pope Shenouda tidak akan bisa melupakan masa kecilnya. Dia adalah anak yatim di sebuah pelosok desa Mesir yang disusui oleh seorang wanita muslimah. Dan wanita muslimah itu sama sekali tidak memaksa Shenouda untuk mengikuti keyakinannya. Wanita muslimah itu mengalirkan air susunya ke tubuh si kecil Snouda murni karena panggilan Ilahi untuk menolong bayi tetangganya yang membutuhkan air susunya. Adakah toleransi melebihi apa yang dilakukan ibu susu Pope Shenouda yang muslimah itu? (111)
Dari ceritanya, Habiburrahman El Shirazy memunculkan wujud toleransi antara agama, yaitu umat Islam dengan umat Kristen Koptik di Mesir. Kutipan di atas menunjukan ciri-ciri manusia yang mulia, yaitu manusia yang menjalankan perintah toleransi yang tertuang dalam al-quran dan hadist.
Dua bangsa dan dua penganut keyakinan yang berbeda. Inilah keharmonisan hidup sebagai umat manusia yang beradab di muka bumi ini” (hal. 37)

c.    Nilai Keadilan dan Kebenaran
Di setiap negara mempunyai hukumnya sendiri yang sesuai dengan ideologi yang dianutnya. Apapun bentuk hukumnya harus mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan benar. Apabila keadilan dan kebenaran tak lagi menjadi nilai akhir dalam pelaksanaan hukum maka alangkah lebih baiknya hukum di hapus dari muka bumi. Karena untuk apa hukum ada jika tak mengandung keadilan dan kebenaran.
Dalam novel Ayat-ayat Cinta, alur yang paling klimaks dan membawa suasana yang begitu menegangkan adalah koflik yang menggiring ke ranah hukum disebabkan tuduhan yang seakan-akan mengandung kebenaran:
“Dalam sejarah kejahatan selalu dilancarkan dengan segala cara. Dan kebenaran selalu dipertahankan dengan cara-cara yang jantan dan bersih,” (264)

Seperti kutipan di atas, kebenaran selalu diperjualbelikan. Hukum hanyalah tulisan yang tertata rapi dan dibaca saja sudah cukup, tak perlu hukum menjadi pedoman, sebab kalau itu terjadi, mungkin penjara akan penuh. Di Indonesia, hal yang demikian itu adalah lumrah.
Di belahan dunia manapun, keadilan dan kebenaran selalu saja takluk oleh raja dunia yaitu “uang”. Uang menjadi penguasa. Uang adalah pemimpin terbaik karena mampu memerintahkan manusia utuk berbohong. Cermati kutipan di bawah ini:
“Dan orang seperti Gamal jangan kau herankan keberadaannya di zaman yang telah kehilangan nurani kemanusiaannya seperti sekarang. Uang menjelma menjadi tuhan. Uang adalah segalanya. Demi uang begundal seperti Gamal siap mengerjakan apapun saja,” sahut Haj Rashed. (Hal. 257-258)
Di Indonesia, salah satu pejabat negara yang bikin gaduh rakyat. Informasi di media berkembang bahwa beliau adalah salah satu pelaku korupsi anggaran yang katanya merugikan negara hingga terliun rupiah. KPK pun membidik tersangka lalu membawa ke ranah hukum. Tapi pada akhirnya KPK pun kalah di ranah hukum. Lemahnya hukum kita disebabkan karena tradisi suap menyuap  masih di pakai oleh umat manusia, terutama umat muslim. Padalah Nabi sangat membenci perbuatan semacam itu:
Suap menyuap adalah perbuatan yang diharamkan dengan tegas oleh Baginda Nabi. Beliau bersabda, ‘Arraasyi wal murtasyi fin naar!’ Artinya, orang yang menyuap dan disuap masuk neraka!” (Hal-274)
Manusia tak menyadari atau berpura-pura lupa bahwa sesungguhnya kebenaran yang paling hakiki yang mustahil di kalahkan oleh uang hanyalah kebenaran Tuhan. Hal tersebut dapat disimak pada kutipan berikut:
“Pak Hakim dan hadirin sekalian. Selamanya kebenaran akan menang. Jika tidak di pengadilan dunia maka kelak di pengadilan akhirat. Selamanya rekayasa manusia tiada artinya apa-apa dibanding kekuasaan Tuhan. (298-299)

Lemahnya hukum dan sistem pemerintahan di suatu negara akan berakibat pada rakyatnya. Apabila pemerintah betul-betul merakyat maka jaminan untuk rakyat adalah perlindungan dari segala macam kekerasan. Kutipan di bawah ini adalah semacam kritikan:
Aku tiba-tiba ingin jadi warga negara Amerika saja. Jika aku warga negara Amerika pasti polisi Mesir tidak berani berbuat macam-macam. Menyentuh kulitku saja mereka tidak akan
berani apalagi mengancam hukuman gantung. Jika aku jadi warga negara Amerika, mungkin seandainya benar-benar memperkosa pun, tetap selamat. Sebab presiden Amerika akan ikut bicara membela warganya seperti ketika Clinton membela warganya yang dicambuk di Singapura. Lain Amerika lain Indonesia. Apa yang dibela oleh presiden Indonesia kalau bukan jabatan dan perutnya sendiri?  Mana mungkin dia mendengar rintihan dan rasa sakitku dicambuk tiap pagi dan membeku kedinginan di bawah tanah dalam musim dingin yang membuat tulang ngilu? Apalagi diriku yang jauh di Mesir. Sedangkan ribuan gadis Indonesia dijual, dirobek-robek kehormatannya dan diperlakukan seperti binatang di Singapura saja presiden diam saja? Kapan dalam sejarahnya ada Presiden Indonesia membela rakyatnya? Kecuali Soekarno di zaman mempertahankan kemerdekaan. (249-250)
Perilaku dalam kehidupan sosial seperti di ranah hukum di atas adalah penyebab terpisahnya manusia dan agama. artinya dalam kehidupannya, manusia tak lagi berpedoman pada aturan-aturan agama. Umat Islam terutama para pejabat pemerintahan, selayaknya memperlakukan hukum islam sebagai pedoman, dalam pelaksanaan hukum di suatu negara. Selama masih kokoh pada hukum islam yang  maka kebenaran dan keadilan takkan diperjualbelikan:
“Tapi, insya Allah, selama masih ada yang teguh kukuh mengamalkan AlQur’an dan As Sunnah, nilai-nilai kemanusiaan tidak akan hilang dari muka bumi ini!” tukas Professor Abdul Rauf Manshour mantap. (258)

III.        SIMPULAN
Berdasakan pembahasan di atas, maka secara garis besar nilai pendidikan yang terdapat dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy adalah nilai pendidikan Islam, nilai pendidikan moral dan nilai pendidikan sosial.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Peristiwa Tutur Menggunakan Teori "Speaking" Dell Hymes

ANALISIS PERISTIWA TUTUR MENGGUNAKAN TEORI " SPEAKING " DELL HYMES Penulis: Rafli Marwan ( Mahasiswa Pascasarjana  Pendidikan Bahasa Indonesia  Universitas Negeri Semarang) Penulis menjelaskan terlebih dahulu komponen-komponen teori  SPEAKING Dell Hymes berdasarkan beberapa referensi. Dell Hymes  Setelah itu, penulis memberikan contoh peristiwa tutur kemudian menganalisis berdasarkan komponen-komponen SPEAKING Dell Hymes. I. Konsep SPEAKING   Dell Hymes Dell Hymes (1972) merumuskan komponen peristiwa tutur yang kemudian diakronimkan menjadi   SPEAKING, yaitu (S) Setting and scene , (P) Participants, (E) End, (A) Act sequence, (K) Key, (I) Instrumentalities, (N) Norms of interaction and interpretation, (G) Genre. berikut penulis menjelaskan disertai perbedaan-perbedaan pemahaman. 1.     Setting and scene (latar dan suasana) . Setting atau latar lebih bersifat fisik, yang meliputi tempat dan waktu terjadinya tuturan....

“Simbolisasi Makanan Adat Ternate Dalam Tradisi Tahlilan” (Sebuah Kajian Makna)

PENDAHULUAN      Ternate merupakan sebuah sumber tradisi lisan yang tercermin dalam sebuah kebudayaan. Kekayaan dari tradisi-tradisi tersebut menjadikan Ternate menjadi ikon sejarah dan budaya yang dikenal dikancah dunia, demikian dengan Maluku Kie Raha secara umum. kekayaan sebuah simbolisasi menghadirkan perhatian bagi masyarakat luas. Karena Leslie White ( dalam Ratna,2011:13) kebudayaan dan peradaban tergantung pada simbol. Kemampuan dalam menggunakan simbollah yang dapat melahirkan dan mempertahankan kebudayaan. Sastra lisan yang juga bagian dari tradisi lisan telah mengingatkan manusia akan sebuah kehidupan masa lalu serta menjadikan para leluhur sebagai titik tolak eksistensi hubungan manusia dengan sesamanya, dengan alam, serta   maha pencipta alam semesta. Mengapa demikian, karena praktik-praktik sebuah masa lalu syarat dengan sebuah makna yang terindikasi pada nilai-nilai moral, serta pesan-pesan yang bernafaskan islam...

Sastra Lisan Ternate: antara Dalil Tifa dan Moralitas Masyarakat Ternate

Dalil Tifa dan Moralitas Masyarakat  Ternate (Artikel ini ditulis ketika itu Kota Ternate sedang kehilangan aura relegiusitasnya. dan bukan hanya ketika itu, hari ini pun demikian) Dewasa ini, tragedi kemanusiaan semakin membara, sejarah kemanusiaan memberikan eksistensi manusia masa kini sebagai perebutan kekuasaan. Segi perebutan kekuasaan ini, menyeluruh hingga ke penjuruh dunia.   Setiap kelompok dominan mengklaim dari sisi agama bahwa mereka yang paling benar berdasarkan keyakinannya. Begitu pula kelompok-kelompok etnis, mengejar ketertinggalan atas dasar warisan sejarah. Politik dewasa ini mengikutsertakan, walaupun dipandang sampah yang busuk, namun tetap di daur ulang oleh pelaku itu sendiri. kehidupan tak lagi sudi bersama manusia, krisis ekonomi, konflik-konflik berkepanjangan yang berujung saling membunuh. belum lagi konsumsi minuman keras, judi, kekerasan dan lain-lain, bahkan bidang pemerintahan, wakil rakyat dan para pemerintah diduga kurupsi.  Ha...