Langsung ke konten utama

Fenomena dan sistem pendidikan


Fenomena dan Sistem Pendidikan

Tulisan ini terlahir atas dasar berpikir sebuah fenomena kehidupan yang membelenggu, telah terlepas dalam tetesan secercah kertas intelektual, serta mengalir deras terhadap relitas pendidikan, Tak luput dari roh politik yang merasuki  batang tubuh pendidikan.  

Pendidikan merupakan pokok dari kehidupan manusia, yang terjalin dalam tiga lingkungan pendidikan yang menuntut manusia mengembangkan potensi dalam diri demi mencapai masa depan. Interaksi pendidikan sering memunculkan adanya problema yang terindikasi pada pendidik  sebagai penguasa kecil disudut-sudut ruang kelas. anak hanya menjadi benda bernyawa, kata benda merupakan hal statis, jika mempunyai nyawa tentu manusia itu di didik tanpa adanya respon (interaksi). Tranformasi memerlukan penyadaran diantara kedua subjek pendidikan. Satu hal yang menjadi jelas dan apa yang di sebut pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia (Soedomo,1990:30), kata mengembangkan menuju pada proses bimbingan, pengajaran, dan pelatihan. Dan pelatihan, membutuhkan fasilitas  yang akan mengembangkan sebuh materi pembelajaran melalui tatanan praktis.

Antara Orang tua dan Kurikulum 2013
Mengenai kurikulum sebagai rujukan pencapaian pendidikan, memiliki relasi yang bersandarkan pada kurikulum 2013. Dituntut siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga ranah afektif, kognitif dan psikomotorik tercapai.  Namun sikap potensi yang diyakini menghadirkan pertanyaan-pertanyaan terhadap tindakan keseharian anak. sebab, nilai hakiki pendidikan mengalami transisi moral dialami anak  dalam lajunya perkembangan zaman. Substansi dari tercapainya hakiki hidup dan kehidupan sebuah pendidikan secara dominan tidaklah dilihat seberapa besar skala kelulusan. Tetapi seyogyanya sikap keagamaan, sosial, serta bekal pengetahuan yang dimiliki. Sehingga tujuan pendidikan tercapai sebagaimana tertuang dalam UU NO. 20 Tahun 2003 SISDIKNAS yang bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. pencapaian pendidikan berdasarkan kurikulum KBK, KTSP, sampai pada kurikulum 2013 yang dianggap baru, namun Generasi masa depan bangsa semakin terpuruk, desakan factor ekonomi, serta lajunya arus modernisasi, informasi-informasi mengenai pendidikan selalu gagal dalam pembentukan karakter yang akan mempersiapkan anak menghadapi tantangan zaman.
Sosialisasi kurikulum 2013 tidak serta merta merujuk pada tranformasi strategi dan taktik terhadap kalangan guru ataupun disetiap lembaga pendidikan yang termasuk dalam ranah formal, tetapi seharusnya keterbukaan dikalangan masyarakat harus disosialisasi, pendidikan saat ini tidak semestinya membutuhkan Guru secara dominan, orang tua harus memahami bagaimana arus pendidikan kedepan dalam hal ini rujukan tentang tujuan dari kurikulum tersebut, sehingga tidak sewenang-wenang melepaskan anaknya menjelajahi  dunia kupu-kupu malam.
 Arus pendidikan berbasis modern semakin mempersempit ruang masyarakat kelas bawah. Bahkan proses pembangunan tidak mendukung kebebasan anak menuju dunia  pendidikan yang lebih tinggi. Siswa  yang lulus dari sekolah menengah atas (SMA) tentu ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi, bahkan ada yang memilih untuk bernaung disetiap instansi yang dianggap masa depannya cerah, namun bagaimana dengan siswa dari orang tua yang berasal dari masyarakat kelas bawah, hal ini menjadi perhatian kita bersama. Pertanyaannya, apa yang terjadi pendidikan kita saat ini? jawabannya adalah lemahnya Equality of opportunity (memberi kesempatan yang sama). pendidikan dari sisi perkotaan dan pedesaan tidaklah mungkin mencapai suatu keadilan jika dilihat dari perbandingan terhadap fasilitas serta hal lainnya.  Padahal kita tahu bahwa perjalanan bangsa Indonesia bersandarkan pada ideologi keadilan sosial sebagai bagian dari ideologi pancasila.

Pendidikan sebagai tanggung jawab bersama, tidak seharusnya menyalahkan antara satu dengan yang lain. Sebab pendidikan mempunyai lingkungan terbagi atas tiga (formal,nonformal dan informal), penyadaran ini sering diabaikan pada akhirnya, orang tua menyalahkan lembaga pendidikan formal, dan lembaga pendidikan formal sebaliknya. Hadirnya pesta demokrasi, kalangan orang tua tentang konsep politik mencapai langit. Yakin dan percaya, jika pendidikan adalah manusia, sejak dahulu, pendidikan sudah tak mau hidup di Negara ini. ia (pendidikan) digeser dalam hal pengontrolan terhadap anak.
Realitas pendidikan kita tidak semestinya mengharapkan satu sama lain. Kemajuan pendidikan menjadi isu sentral bagi kemajuan bangsa Indonesia. Dengan mengacu pada prospek tersebut, semoga kurikulum 2013 membuka lembaran baru anak negeri dalam mencapai “equality of opportunity”. serta progresif, kritis demi mencapai masa depan yang lebih baik. insyah allah. ***


              


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Peristiwa Tutur Menggunakan Teori "Speaking" Dell Hymes

ANALISIS PERISTIWA TUTUR MENGGUNAKAN TEORI " SPEAKING " DELL HYMES Penulis: Rafli Marwan ( Mahasiswa Pascasarjana  Pendidikan Bahasa Indonesia  Universitas Negeri Semarang) Penulis menjelaskan terlebih dahulu komponen-komponen teori  SPEAKING Dell Hymes berdasarkan beberapa referensi. Dell Hymes  Setelah itu, penulis memberikan contoh peristiwa tutur kemudian menganalisis berdasarkan komponen-komponen SPEAKING Dell Hymes. I. Konsep SPEAKING   Dell Hymes Dell Hymes (1972) merumuskan komponen peristiwa tutur yang kemudian diakronimkan menjadi   SPEAKING, yaitu (S) Setting and scene , (P) Participants, (E) End, (A) Act sequence, (K) Key, (I) Instrumentalities, (N) Norms of interaction and interpretation, (G) Genre. berikut penulis menjelaskan disertai perbedaan-perbedaan pemahaman. 1.     Setting and scene (latar dan suasana) . Setting atau latar lebih bersifat fisik, yang meliputi tempat dan waktu terjadinya tuturan....

“Simbolisasi Makanan Adat Ternate Dalam Tradisi Tahlilan” (Sebuah Kajian Makna)

PENDAHULUAN      Ternate merupakan sebuah sumber tradisi lisan yang tercermin dalam sebuah kebudayaan. Kekayaan dari tradisi-tradisi tersebut menjadikan Ternate menjadi ikon sejarah dan budaya yang dikenal dikancah dunia, demikian dengan Maluku Kie Raha secara umum. kekayaan sebuah simbolisasi menghadirkan perhatian bagi masyarakat luas. Karena Leslie White ( dalam Ratna,2011:13) kebudayaan dan peradaban tergantung pada simbol. Kemampuan dalam menggunakan simbollah yang dapat melahirkan dan mempertahankan kebudayaan. Sastra lisan yang juga bagian dari tradisi lisan telah mengingatkan manusia akan sebuah kehidupan masa lalu serta menjadikan para leluhur sebagai titik tolak eksistensi hubungan manusia dengan sesamanya, dengan alam, serta   maha pencipta alam semesta. Mengapa demikian, karena praktik-praktik sebuah masa lalu syarat dengan sebuah makna yang terindikasi pada nilai-nilai moral, serta pesan-pesan yang bernafaskan islam...

Sastra Lisan Ternate: antara Dalil Tifa dan Moralitas Masyarakat Ternate

Dalil Tifa dan Moralitas Masyarakat  Ternate (Artikel ini ditulis ketika itu Kota Ternate sedang kehilangan aura relegiusitasnya. dan bukan hanya ketika itu, hari ini pun demikian) Dewasa ini, tragedi kemanusiaan semakin membara, sejarah kemanusiaan memberikan eksistensi manusia masa kini sebagai perebutan kekuasaan. Segi perebutan kekuasaan ini, menyeluruh hingga ke penjuruh dunia.   Setiap kelompok dominan mengklaim dari sisi agama bahwa mereka yang paling benar berdasarkan keyakinannya. Begitu pula kelompok-kelompok etnis, mengejar ketertinggalan atas dasar warisan sejarah. Politik dewasa ini mengikutsertakan, walaupun dipandang sampah yang busuk, namun tetap di daur ulang oleh pelaku itu sendiri. kehidupan tak lagi sudi bersama manusia, krisis ekonomi, konflik-konflik berkepanjangan yang berujung saling membunuh. belum lagi konsumsi minuman keras, judi, kekerasan dan lain-lain, bahkan bidang pemerintahan, wakil rakyat dan para pemerintah diduga kurupsi.  Ha...