Langsung ke konten utama

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS LOKAL MALUKU UTARA

Pengembangan Pendidikan Karakter Berbasis Lokal




Oleh : Rafli Marwan
Penggiat PUSMAT & Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNKHAIR

            Indonesia, dari detik per-detik, memuat peristiwa yang berdampak  pada karakter
 manusia yang menjadi narasi besar kehancuran budaya bangsa. Bahkan generasi terdidik
menjadi alat legitimasi zaman yang terus-menerus menjelma dalam hidup dan
kehidupan mereka. (penulis)

Pendidikan menjadi potret buram kegagalan bangsa Indonesia yang terindikasi  dalam  sendi kehidupan dalam lajunya perkembangan zaman. Lambat laun kualitas pendidikan terasa pahit bersamaan dengan krisis ekonomi serta politik yang mengikutsertakan sehingga terjadi pertentangan disetiap pemangku kebijakan. akhirnya pencapaian tujuan pendidikan yang berdasarkan sistem pendidikan nasional laksana benang kusut yang kian terjerat disetiap dinamika sosial. krisis pendidikan bukanlah sesuatu dengan sendirinya mendarat dari langit, melainkan karakter anak bangsa tersisih dari nilai pancasila. Terkait hal tersebut Mohammad Takdir Ilahi mengatakan bahwa krisis karakter yang menimpa anak muda indonesia secara tidak langsung mempengaruhi kepribadian dan perilaku mereka sehari-hari. Selanjutnya, Krisis karakter yang dialami bangsa saat ini disebabkan kerusakan individu-individu masyarakat yang terjadi secara kolektif sehingga terbentuk menjadi budaya (baca, Mohammad Takdir Ilahi, 2014 : 19).
Maluku Utara, dalam perspektif Pendidikan menjadi pertanyaan besar dengan penumpuknya pembangunan serta alat teknologi. Alur globalisasi bukan hanya mengantarkan anak berprestasi dengan cara memanfaatkan alat teknologi, tetapi lebih merubah pradigma berfikir yang hedonis, sebab lebih bersifat materil daripada kadar intelektualnya. Mementingkan gaya hidup adalah cerminan dari tersisihnya animo anak untuk memenuhi kecakapan hidup (Life skill), yakni suatu kepandaian, kemahiran, dan kesanggupan anak untuk belajar dan berpikir. Tuntutan zaman yang kian membanjiri kehidupan anak sebagai generasi emas tak dapat dibendung  Sebab alternatif utama sistem control dan bimbingan disetiap elemen pendidikan dianggap gagal dalam membentuk jati diri berdasarkan tujuan pendidikan nasional.
Konsep Pendidikan karakter dirancang oleh Kementrian Pendidikan sejak tahun 2010, seiring dengan terbitnya buku pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Salah seorang yang mencoba mensosialisasi konsep ini adalah mantan wakil Presiden Budiono. (Ibid.,hal. 21-88).  Bisa ditafsir, kesadaran pemerintah dalam menerapkan konsep pendidikan karakter karena krisis pendidikan dominan berujung pada krisis moral. Jika demikian, lalu bagaimana dengan masa depan anak bangsa yang disaksikan dari tahun 2010 hingga mencapai 2015?  Sebenarnya penerapan kurikulum berbasis pendidikan karakter melibatkan oleh orang-orang yang sadar tanpa menyadari apa yang dibutuhkan  anak bangsa untuk mengisi ruang berpikir tentang landasan intelektual moral.
Dengan mengacu pada konsistensi gagasan utama. peralihan sentralisasi ke desentralisasi kurikulum menjadi keseriusan bersama Oleh orang-orang yang terlibat dalam kebijakan otonomi daerah secara formal. disaat proses peralihan kurikulum termasuk pendidikan karakter, disetiap daerah-daerah tertentu, Pemerintah daerah dianggap lalai, bahkan bisa dikatakan gagal dalam mengelolah sumber daya manusia (SDM) dengan menitikberatkan pada sumber daya alam (SDA) sebagai penumbuh kecerdasan tentang keluhuran budaya, agama dan sejarah yang bernuansa  aksiologis. Maluku utara sangat nampak keambisian dengan cita-cita persaingan alat teknologi guna meningkatkan mutu pendidikan berbasis modern, padahal pengelolahan kompetensi sangat minim, hanya orang-orang tertentu yang diikutsertakan dalam mengenyam pendidikan. hal tersebut bisa dikatakan gagalnya equality of opportunity (memberi kesempatan yang sama), dan UUD 1945 pasal 31 ayat 1, setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan. penulis berasumsi, pendidikan orde lama lebih efektif karena berazaskan sosialisme yang dicita-citakan Ir.Soekarno, daripada era reformasi yang sangat nampak budaya nepotisme yang menjalar didunia pendidikan. Maluku- Utara merupakan daerah yang mempunyai SDA, bahkan mempunyai SDM yang cukup melevel. Namun karakter manusialah yang memprihatinkan dalam mengelolah serta mengembangkan eksistensi daerah tersebut. Padahal desentralisasi kurikulum yakni peralihan pusat ke daerah merupakan tuntutan reformasi yang harus di lakukan dalam mengembangkan eksistensi sebuah lokalitas. Sebab mutu pendidikan otonomi daerah turut menunjang kamajuan pendidikan bangsa Indonesia secara universal.
            Pendidikan karakter adalah syarat mutlak yang harus ditempuh demi membenahi tubuh pendidikan yang diterpa badai krisis. Maka konsep  Pembelajaran seyogyanya lebih mengerucut  sesuai dengan otonomi daerah, dalam artian pengelolaan sumber daya manusia sesuai dengan kekayaan sumber daya alam. Kearifan lokal (lokal wisdom) di Maluku Utara misalnya, menjadi jangka panjang prospek pendidikan karakter agar membuka cakrawala berpikir tidak tersisih dari  keluhuran nilai budaya. Maka pemerintah harus menjadi pionir penerapan kurikulum sesuai dengan landasan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, Bab XIV Pasal 50 Ayat 5 yang menegaskan bahwa “Pemerintah Kabupaten/Kota mengelolah pendidikan dasar dan menengah serta satuan pendidikan yang berbasis lokal.  Dengan demikian tatanan nilai sosial budaya searah dengan kemajuan zaman. Tafsiran Undang-undang tersebut menuntut eksistensi sumber daya alam dimanifestasi dalam penerapan kurikulum pembelajaran sehingga pengetahuan tentang nilai lokal tertanam dalam ruang batin anak didik agar  terwujud melalui tata laku dalam kehidupan keseharian. Disinilah letak terintegrasi tatanan moral sebagai wujud karakter sebagai tujuan utama pendidikan.
            Pengembangan kurikulum berbasis lokal tidak dimaksudkan menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi diintegrasikan dengan ruang lingkup mata pelajaran yang berkaitan. Misalnya mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, bukan hanya mengajarkan anak didik metode penulisan puisi, novel dan lain sebagainya, melainkan pemahaman isi dan makna yang menggambarkan sebuah realitas yang secara tidak langsung menerobos nuansa batin, sebab sastra tidak sebatas menciptakan berdasarkan ciptaan sastrawan melalui teks, melainkan situasi dan kondisi masyarakat yang terpatri dalam hakikat karya sastra secara konotasi.  Sebagai bunga rampai studi sastra dan budaya, “sastra lisan” (dalil tifa, dalil moro dan dola bololo) menjadi gerbang utama yang harus diprioritaskan dalam rangka membentuk pendidikan karakter. sebab medium bahasanya mampu mewujudkan nilai etika dan moral terhadap paradigma berpikir anak dilingkungan pendidikan formal, informal maupun nonformal. Kurikulum sebelumnya jelas adanya mata pelajaran tersendiri misalnya Mulok (muatan Lokal), namun tidak secara efektif pengelolahan mengenai rujukan mata pelajaran yang memenuhi level penerapan eksistensi Lokal. Penerapan konsep tersebut bukan berarti budaya lokal dalam hal ini sastra lisan diterapkan secara menyeluruh, tetapi penulis mengajukan konsep ini sebagai representasi pembelajaran berbasis lokal serta penerapan konsep sesuai dengan konteks budaya yang berada disetiap daerah-daerah tertentu.
Penerapan konsep dalam pembelajaran berbasis lokal, bagi penulis  tidaklah sulit, sebab sumbernya terlahir di berbagai daerah dimana sekolah itu berada. Karena ‘Mario Montessori’ berpendapat bahwa “pendidikan tak selalu mengadakan fasilitas yang sulit disediakan, sebuah pendidikan dipandang baik bila mampu memanfaatkan seluruh lingkungan belajar anak didik sebagai pupuk penumbuh kecerdasan (Baca, Mohammad Nuh, 2013 : 59) . Hemat  penulis, Penerapan kurikulum berbasis lokal dikatakan sulit karena tidak mencoba menelusuri eksistensi dari wujud kebudayaan itu sendiri.
 mengakhiri tulisan ini, diharapkan Dinas Pendidikan Provinsi Malut mampu mengembangkan pendidikan karakter serta memanfaatkan potensi kebudayaan lokal demi masa depan identitas budaya  dan anak negeri. semoga. ***
  
                                                                                                Penerbitan:
                                                                                                Posko Malut

Rabu, 26 November 2014

Komentar

  1. Pembaca yang baik meninggalkan komentar (Pertanyaan, Kritik, saran, tanggapan, dll).

    BalasHapus
  2. Mantap pak memang perlu dijaga sbg kearifan lokal

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Peristiwa Tutur Menggunakan Teori "Speaking" Dell Hymes

ANALISIS PERISTIWA TUTUR MENGGUNAKAN TEORI " SPEAKING " DELL HYMES Penulis: Rafli Marwan ( Mahasiswa Pascasarjana  Pendidikan Bahasa Indonesia  Universitas Negeri Semarang) Penulis menjelaskan terlebih dahulu komponen-komponen teori  SPEAKING Dell Hymes berdasarkan beberapa referensi. Dell Hymes  Setelah itu, penulis memberikan contoh peristiwa tutur kemudian menganalisis berdasarkan komponen-komponen SPEAKING Dell Hymes. I. Konsep SPEAKING   Dell Hymes Dell Hymes (1972) merumuskan komponen peristiwa tutur yang kemudian diakronimkan menjadi   SPEAKING, yaitu (S) Setting and scene , (P) Participants, (E) End, (A) Act sequence, (K) Key, (I) Instrumentalities, (N) Norms of interaction and interpretation, (G) Genre. berikut penulis menjelaskan disertai perbedaan-perbedaan pemahaman. 1.     Setting and scene (latar dan suasana) . Setting atau latar lebih bersifat fisik, yang meliputi tempat dan waktu terjadinya tuturan....

“Simbolisasi Makanan Adat Ternate Dalam Tradisi Tahlilan” (Sebuah Kajian Makna)

PENDAHULUAN      Ternate merupakan sebuah sumber tradisi lisan yang tercermin dalam sebuah kebudayaan. Kekayaan dari tradisi-tradisi tersebut menjadikan Ternate menjadi ikon sejarah dan budaya yang dikenal dikancah dunia, demikian dengan Maluku Kie Raha secara umum. kekayaan sebuah simbolisasi menghadirkan perhatian bagi masyarakat luas. Karena Leslie White ( dalam Ratna,2011:13) kebudayaan dan peradaban tergantung pada simbol. Kemampuan dalam menggunakan simbollah yang dapat melahirkan dan mempertahankan kebudayaan. Sastra lisan yang juga bagian dari tradisi lisan telah mengingatkan manusia akan sebuah kehidupan masa lalu serta menjadikan para leluhur sebagai titik tolak eksistensi hubungan manusia dengan sesamanya, dengan alam, serta   maha pencipta alam semesta. Mengapa demikian, karena praktik-praktik sebuah masa lalu syarat dengan sebuah makna yang terindikasi pada nilai-nilai moral, serta pesan-pesan yang bernafaskan islam...

Sastra Lisan Ternate: antara Dalil Tifa dan Moralitas Masyarakat Ternate

Dalil Tifa dan Moralitas Masyarakat  Ternate (Artikel ini ditulis ketika itu Kota Ternate sedang kehilangan aura relegiusitasnya. dan bukan hanya ketika itu, hari ini pun demikian) Dewasa ini, tragedi kemanusiaan semakin membara, sejarah kemanusiaan memberikan eksistensi manusia masa kini sebagai perebutan kekuasaan. Segi perebutan kekuasaan ini, menyeluruh hingga ke penjuruh dunia.   Setiap kelompok dominan mengklaim dari sisi agama bahwa mereka yang paling benar berdasarkan keyakinannya. Begitu pula kelompok-kelompok etnis, mengejar ketertinggalan atas dasar warisan sejarah. Politik dewasa ini mengikutsertakan, walaupun dipandang sampah yang busuk, namun tetap di daur ulang oleh pelaku itu sendiri. kehidupan tak lagi sudi bersama manusia, krisis ekonomi, konflik-konflik berkepanjangan yang berujung saling membunuh. belum lagi konsumsi minuman keras, judi, kekerasan dan lain-lain, bahkan bidang pemerintahan, wakil rakyat dan para pemerintah diduga kurupsi.  Ha...